• Tentang Saya

Media Online Sebagai Media Literasi Budaya

 on Minggu, 24 Mei 2015  

Media Online Sebagai Media Literasi Budaya

Oleh : Robby Darmawan (1124050131)

Jurnalistik 6 D



Media online didefinisikan sebagai media yang menyajikan karya jurnalistik secara online. Sebagai sebuah hasil dari perkembangan teknologi komunikasi, media online menawarkan sebuah media yang dapat digunakan sebagai alat komunikasi antar manusia bagi para penggunanya. Hal ini dikarenakan media online memiliki beberapa sifat diantaranya adalah interaktif dan egaliter. Menjadi bagian dari media massa generasi ketiga, kemunculan media online di Indonesia diawali dari peristiwa lengsernya Orde Baru tahun 1998, dimana masyarakat membutuhkan sebuah media alternatif untuk menjawab kebutuhan akan informasi seketika, maka pada tahun itu pula munculah www.detik.com sebagai bentuk media online pertama di Indonesia.

Seperti media massa lainnya, media online juga memiliki dampak yang cukup kompleks terhadap budaya baik secara individu dan masyarakat. Laswell sendiri mengidentifikasi fungsi media massa pada budaya ke dalam empat elemen yaitu fungsi pengawasan, penghubungan, pentransferan budaya dan dua kategori. Hal ini diperkuat oleh pernyataan Marshall McLuhan yang mengatakan bahwa media massa berperan untuk membentuk karakter serta bidang sosial masyarakat, termasuk sosial budaya (McQuail, 2000:107)

Memiliki sifat yang cukup unik karena menggabungkan kemampuan cetak, audio, dan visual membuat media online memiliki nilai lebih dibandingkan media tradisional pada umumnya. Oleh karenanya, dengan kelebihan yang ditawarkan tersebut, memungkinkan pengguna dapat mengakses informasi secara lebih interaktif, sehingga menjadikan media online memiliki potensi untuk digunakan sebagai media pembelajaran, khususnya literasi mengenai budaya.

Arus globalisasi diiringi dengan perkembangan teknologi komunikasi seperti teknologi munculnya internet merubah pola masyarakat terhadap konsumsi infomasi. Melalui internet pula masyarakat memiliki keragaman pilihan budaya dan produk yang ingin dikonsumsi. Starbucks, McDonald, K-Pop, dan modern lifestyle, menjadi bagian yang tidak bisa dipisahkan dari generasi muda jaman sekarang. Produk dan budaya lokal menjadi sesuatu yang tidak lagi menarik, digantikan oleh produk budaya dan gaya hidup yang seragam diseluruh dunia, menyebar melalui kecanggihan teknologi komunikasi dan membentuk sebuah budaya global serta menghasilkan industri budaya baru yang melemahkan budaya nasional atau budaya lokal suatu negara.

Bagi sebuah bangsa, budaya nasional sama pentingnya dengan ideologi bangsa itu sendiri. Generasi muda adalah generasi yang diharapkan dapat melestarikan sebuah budaya untuk dapat diwariskan ke generasi berikutnya. Kekhawatiran bahwa budaya nasional akan tergerus oleh budaya global yang terus muncul seiring dengan perkembangan teknologi komunikasi merupakan sebuah issue yang perlu diperhatikan, mengingat bahwa konsumsi masyarakat terhadap internet meningkat tiap tahunnya. Di Indonesia sendiri, melalui sebuah survei yang dilakukan oleh UNICEF, sekitar 79% dari 400 responden usia 10 - 19 tahun yang dikategorikan sebagai generasi muda adalah para pengguna internet aktif (Aditya Panji, 2014).

Kemunculan internet dengan berbagai variannya, bukanlah sesuatu yang harus ditakuti. Dengan memanfaatkan kelebihan yang dimiliki oleh masing-masing fiturnya, contohnya media online, internet dapat dimanfaatkan untuk membantu generasi muda mengenal budaya nasional sekaligus menumbuhkan ketertarikan terhadap budaya bangsa mereka sendiri. Pergeseran tipe khalayak dari tipe khalayak positif pada masa media tradisional menuju tipe khalayak aktif adalah keuntungan lain yang dimiliki oleh media online. Bentuk hubungan antara media dan khalayak tidak lagi sekedar interaksi antara audiensi-media, melainkan khalayak diposisikan pada posisi negosiasi, dimana khalayak bisa menjadi konsumen sekaligus produsen pesan dirasa dapat memberikan kemudahan bagi berlangsungnya proses literasi budaya.

Literasi budaya penting untuk dilakukan sebagai benteng budaya atau filter terhadap hadirnya budaya luar atau budaya global agar tidak mengganggu proses enkulturasi budaya asal. Literasi budaya bukan hanya sekedar keahlian formal melainkan juga sebuah pengetahuan kanonis, yang diterjemahkan oleh Hirsch sebagai “knowledge upon literacy, and literacy upon cultural literacy” (Hirsch, 2002: 59 -73). Literasi budaya dapat dilakukan melalui berbagai media dan institusi, seperti sekolah, keluarga, tayangan televisi, dan melalui media online.

Media online menciptakan ruang bagi proses literasi budaya untuk generasi muda melalui beberapa kelebihan yang dimilikinya seperti akses internet dan komunikasi dua arah. Sebagai sebuah ruang publik, media online memberikan kesempatan bagi masyarakat untuk terlibat aktif dalam proses melek budaya melalui tulisan dan diskusi interaktif. Media online yang merupakan media alternatif mencoba untuk memenuhi fungsinya sebagai media pembelajaran masyarakat.


Referensi :
Hirsch, E.D (2002). The New Dictionary of Cultural Literacy (3rd ed). New York: Houghton Mifflin
McQuail, Dennis
Aditya Panji (2014). Hasil Survei Pemakaian Internet Remaja Indonesia
(http://tekno.kompas.com/read/2014/02/19/16232/Hasil.Survei.Pemakaian.Internet.Remaja.Indonesia, diakses tanggal 24 Mei 2015, pukul 14.16)


Media Online Sebagai Media Literasi Budaya 4.5 5 Unknown Minggu, 24 Mei 2015 Media Online Sebagai Media Literasi Budaya Oleh : Robby Darmawan (1124050131) Jurnalistik 6 D Media online didefinisikan sebaga...


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.
J-Theme